Tim Hong Kong University of Science and Technology menggabungkan pemurnian air laut, elektrolisis, dan pengelolaan panas dalam satu sistem, tetapi temuan ini tidak berarti air laut mentah kini bisa langsung dimasukkan ke elektroliser biasa.
Hidrogen hijau kerap dipromosikan sebagai bahan bakar rendah karbon, namun ada satu persoalan yang sering luput dari perhatian: proses elektrolisis umumnya membutuhkan air yang sangat murni. Menurut International Energy Agency, elektrolisis memerlukan sekitar 10 liter air per kilogram hidrogen sebagai bahan baku, dan total kebutuhan air bisa mencapai 30-70 liter per kilogram jika pendinginan ikut dihitung. Itu sebabnya pertanyaan “mengapa membuat hidrogen masih memakai air tawar?” menjadi semakin relevan, terutama di wilayah yang justru kaya air laut tetapi miskin air bersih.
Di titik itulah riset terbaru dari Hong Kong University of Science and Technology (HKUST) menarik perhatian. Dalam pengumuman kampus pada 5 Oktober 2026, HKUST menyatakan timnya bersama Arizona State University dan Hong Kong Polytechnic University mengembangkan sistem terintegrasi yang memakai panas buangan dari elektrolisis untuk membantu menghasilkan air murni yang dibutuhkan dalam produksi hidrogen. Dengan kata lain, panas yang biasanya dianggap sebagai rugi-rugi energi dicoba diubah menjadi sumber daya untuk pengolahan air.
Bukan “air laut mentah langsung jadi hidrogen”
Hal pertama yang perlu diluruskan adalah istilah “hidrogen dari air laut”. Dalam praktik teknik, ini bukan berarti air laut mentah dituangkan begitu saja ke dalam elektroliser konvensional. HKUST sendiri menekankan bahwa garam dan komponen lain di air laut dapat memicu reaksi yang tidak diinginkan sekaligus mempercepat degradasi membran dan katalis. Karena itu, persoalan utama bukan sekadar ada tidaknya air, melainkan bagaimana memisahkan air yang dibutuhkan dari kontaminan tanpa membuat sistem menjadi terlalu boros energi atau air tawar.
Makalah ilmiahnya sudah lebih dulu terbit di Nature Communications pada 7 Juli 2026 dengan judul Thermally symbiotic integration of osmotic membrane distillation and electrolysis for direct seawater hydrogen production, sementara pengantar populer dari HKUST baru dirilis pada 5 Oktober 2026. Pembedaan tanggal ini penting: publik baru ramai membahasnya pada Oktober, tetapi hasil ilmiahnya sendiri sudah dipublikasikan beberapa bulan sebelumnya.
Yang diubah oleh riset ini adalah logika pemakaian panas buangan
Sistem yang dikembangkan tim HKUST menggabungkan osmotic membrane distillation (OMD) dengan alkaline water electrolysis (AWE). Dalam skema ini, OMD memisahkan uap air murni dari air laut dan mencegah komponen utama air laut mencapai elektroliser. Sementara itu, AWE memproduksi hidrogen. Kunci gagasannya ada pada hubungan dua arah di antara keduanya: panas buangan dari elektrolisis dipakai untuk mendorong proses OMD, sedangkan OMD ikut membantu membuang panas dari elektroliser agar suhunya tetap berada pada rentang kerja yang diinginkan.
Secara sederhana, tim ini tidak mencoba “menghilangkan” tahap pemurnian air, melainkan memindahkan beban persoalan ke desain sistem yang lebih efisien. Ini penting karena dalam banyak diskusi publik, seolah-olah tantangan terbesar hidrogen hijau hanya listrik terbarukan. Padahal, di banyak lokasi, air dan panas proses juga menentukan apakah proyek layak dijalankan secara berkelanjutan atau tidak. IEA juga mencatat sekitar 40% proyek hidrogen rendah emisi yang direncanakan berada di wilayah dengan tekanan air tinggi, sehingga sumber air alternatif dan pengelolaan air yang hati-hati menjadi isu strategis, bukan sekadar detail teknis.
Apa yang sudah dibuktikan, dan apa yang belum
Menurut HKUST, pengujian dengan air laut nyata menunjukkan sistem ini mampu menolak lebih dari 99% komponen utama air laut dan mempertahankan operasi stabil selama 500 jam terus-menerus. Kampus itu juga menyebut efisiensi Faradaik serta kemurnian hidrogen dan oksigen masing-masing melampaui 99%. Di sisi lain, makalah Nature Communications menjelaskan bahwa kelayakan sirkulasi panas mandiri divalidasi melalui pemodelan termal-air-hidrogen, dan penulisnya secara eksplisit menulis bahwa verifikasi pilot skala lebih besar tetap dibutuhkan karena skala laboratorium masih menghadapi kehilangan panas yang tinggi.
Di sinilah batas pentingnya. Riset ini menunjukkan bahwa panas buangan elektrolisis dapat dijadikan penggerak pemurnian air di dalam satu arsitektur terpadu. Namun riset ini belum membuktikan bahwa teknologi tersebut sudah siap untuk komersialisasi massal, belum menetapkan jadwal penerapan skala industri, dan tidak otomatis berarti semua proyek hidrogen pesisir kini bisa memakai air laut tanpa persoalan korosi, scaling, atau pengelolaan brine. Bahkan makalahnya sendiri masih menempatkan validasi skala pilot sebagai tahapan berikutnya yang esensial.
Mengapa temuan ini relevan di Asia, termasuk Indonesia
Relevansi riset semacam ini cukup jelas bagi negara-negara pesisir dan kepulauan, tetapi maknanya bukan otomatis bahwa mereka bisa segera beralih ke “hidrogen dari laut”. Yang lebih realistis, riset HKUST memperkaya pilihan desain bagi proyek-proyek yang menghadapi dua tekanan sekaligus: kebutuhan dekarbonisasi dan keterbatasan air bersih. Di Indonesia, Kementerian ESDM telah mempublikasikan Peta Jalan Hidrogen dan Amonia Nasional pada 15 April 2025, dan pada 21 Juli 2026 pemerintah memperkenalkan Green Hydrogen Corridor Jakarta-Karawang-Patimban sepanjang 194 kilometer dalam GHES 2026. Fakta ini menunjukkan bahwa isu hidrogen sudah masuk ke agenda kebijakan domestik, sehingga diskusi tentang sumber air untuk elektrolisis lambat laun juga akan menjadi semakin penting.
Meski demikian, menghubungkan riset HKUST langsung ke proyek Indonesia akan terlalu jauh jika belum ada adopsi resmi, kerja sama, atau uji lapangan yang diumumkan. Untuk saat ini, signifikansinya lebih tepat dibaca sebagai referensi teknologi: bahwa pengembangan hidrogen hijau tidak hanya soal membangun elektroliser dan menambah listrik terbarukan, tetapi juga soal bagaimana air, panas, dan material dikelola sebagai satu sistem.
Yang benar-benar berubah dari temuan ini
Jadi, apakah air laut kini bisa langsung diubah menjadi hidrogen? Jawaban singkatnya: belum, setidaknya tidak dalam pengertian populer bahwa air laut mentah dapat dimasukkan begitu saja ke alat elektrolisis biasa. Yang diubah oleh tim HKUST adalah cara memandang limbah panas elektrolisis. Dalam rancangan mereka, panas buangan tidak sekadar dibuang, melainkan dipakai untuk membantu menyiapkan air murni yang memang tetap dibutuhkan proses produksi hidrogen. Itu adalah kemajuan penting di tingkat arsitektur sistem, bukan penghapusan seluruh persoalan pemurnian air.
Bagi pembaca, pelajaran terbesarnya sederhana: transisi energi tidak pernah hanya soal mengganti satu sumber energi dengan sumber lain. Dalam kasus hidrogen hijau, pertanyaan tentang air, efisiensi panas, korosi, dan skala operasi sama pentingnya dengan pertanyaan tentang listrik terbarukan. Riset HKUST memberi jawaban yang lebih cerdas atas sebagian persoalan itu, tetapi belum menutup seluruh daftar tantangan menuju penerapan industri.
