Temuan terbaru di Singapura menunjukkan jurang antara niat menjadi orang tua dan pemahaman tentang usia, waktu reproduksi, serta batas teknologi fertilitas.
Keinginan untuk punya anak tidak otomatis diikuti pemahaman yang memadai tentang kapan peluang biologis mulai menyempit. Itulah jawaban paling langsung atas pertanyaan mengapa banyak orang muda masih bisa kurang paham soal hubungan antara usia dan fertilitas, meski mereka tetap membayangkan masa depan berkeluarga. Di Singapura, kesenjangan itu kini terlihat cukup jelas dalam sebuah studi yang diringkas NUS pada 2 Oktober 2026: sekitar 84 persen responden mengatakan secara ideal ingin memiliki setidaknya satu anak, tetapi hanya sekitar 10 persen yang menjawab benar seluruh pertanyaan dasar tentang pengetahuan fertilitas.
Angka tersebut penting bukan karena membuktikan generasi muda “tidak serius” soal keluarga, melainkan karena menunjukkan ada salah kaprah yang lebih halus: rencana memiliki anak makin sering didorong ke usia yang lebih matang, sementara pemahaman mengenai jendela reproduksi, perubahan terkait usia, dan keterbatasan intervensi medis tidak selalu bergerak secepat perubahan gaya hidup itu. Dalam konteks Singapura, pembacaan ini relevan di tengah total fertility rate penduduk residen yang turun ke 0,87 pada 2025 dari 0,97 pada 2024.
Yang sebenarnya ditunjukkan oleh studi ini
Ringkasan NUS yang terbit pada 2 Oktober 2026 merujuk pada liputan media atas studi Thomson Medical-NUS, jadi tanggal publikasi ringkasan kampus perlu dibedakan dari waktu penyampaian temuan studi itu sendiri. Laporan The Straits Times menyebut temuan tersebut dipaparkan pada 1 Oktober 2026 dalam sebuah media briefing. Media yang sama juga menulis bahwa survei ini melibatkan 1.035 responden berusia 18 hingga 39 tahun, dengan usia rata-rata 28,8 tahun, dan 87 persen di antaranya adalah warga negara Singapura.
Temuannya lebih bernuansa daripada sekadar “orang muda tidak tahu apa-apa”. Sebagian besar responden memahami secara umum bahwa fertilitas menurun seiring usia, tetapi detail dasarnya goyah. Menurut laporan The Business Times, 54 persen merasa dirinya cukup terinformasi tentang fertilitas dan kesehatan reproduksi, namun hanya 10 persen yang berhasil menjawab benar lima pertanyaan literasi fertilitas. Sekitar 80 persen tahu peluang kehamilan perempuan menurun seiring usia, tetapi hanya 29 persen yang tahu ovarium tidak terus memproduksi sel telur baru sepanjang masa reproduktif, dan hanya 57 persen yang tahu fertilitas pria juga menurun dengan bertambahnya usia.
Di sini batas pembacaan datanya juga harus tegas. Hasil survei ini tidak bisa digeneralisasi begitu saja menjadi gambaran semua anak muda Singapura. Selain itu, skor kuis pengetahuan fertilitas tidak sama dengan penilaian atas kemampuan reproduksi seseorang. Seseorang bisa kurang paham konsep dasar, tetapi tidak berarti ia mengalami infertilitas; sebaliknya, pemahaman yang baik pun tidak menjamin hasil reproduksi tertentu. Studi ini mengukur literasi dan aspirasi, bukan mendiagnosis kondisi medis personal.
Bukan berarti mereka tidak ingin menjadi orang tua
Salah satu poin terpenting justru terletak di sini: keinginan berkeluarga tetap kuat. Pemerintah Singapura dalam Marriage and Parenthood Survey 2021 juga menemukan aspirasi menikah dan punya anak masih tinggi; 77 persen responden lajang dalam survei itu mengatakan mereka menginginkan anak. Dalam studi terbaru yang dirujuk NUS dan media Singapura, 84 persen responden bahkan menyatakan idealnya ingin setidaknya satu anak, dan 51 persen mengatakan keluarga ideal mereka memiliki dua anak.
Artinya, jurang utama dalam perdebatan fertilitas Singapura bukan semata antara “ingin” dan “tidak ingin”, melainkan antara aspirasi jangka panjang dan kesiapan informasi pada saat keputusan biologis mulai menjadi mendesak. Temuan ini juga sejalan dengan hasil survei pemerintah sebelumnya yang menunjukkan banyak warga masih melebih-lebihkan kemampuan teknologi reproduksi untuk mengimbangi penurunan fertilitas terkait usia. Dalam Marriage and Parenthood Survey 2021, lebih dari 70 persen responden menikah dan lajang memiliki miskonsepsi bahwa teknologi reproduksi berbantu seperti IVF memiliki tingkat keberhasilan yang sangat tinggi untuk perempuan berusia di atas 40 tahun.
Mengapa pengetahuan dasar bisa tertinggal dari rencana hidup
Ada beberapa lapisan penjelasan. Pertama, pengetahuan yang paling sering beredar di ruang publik biasanya bersifat umum dan potongan-potongan: orang tahu bahwa usia “berpengaruh”, tetapi tidak memahami seberapa cepat perubahan itu terjadi, bagaimana faktor pria ikut berperan, atau bahwa teknologi fertilitas bukan tombol darurat yang selalu berhasil. HealthHub Singapura secara eksplisit menyebut fertilitas menurun pada perempuan dan laki-laki seiring usia, dan menjelaskan bahwa peluang terbaik untuk hamil umumnya ada pada usia 20-an, lalu menurun pada usia 30-an, terutama setelah 35 tahun. Sumber resmi yang sama juga menegaskan tingkat keberhasilan ART tetap sangat bergantung pada usia perempuan.
Kedua, keputusan untuk punya anak sering diperlakukan sebagai urusan masa depan yang bisa dibereskan nanti, sementara informasi fertilitas baru dicari ketika pasangan mulai mencoba hamil. Padahal, survei terbaru itu menunjukkan responden justru menginginkan dukungan yang datang lebih awal, termasuk edukasi fertilitas dan akses yang lebih mudah ke pemeriksaan awal. Dengan kata lain, masalahnya bukan sekadar kurangnya informasi, tetapi juga soal kapan informasi itu dianggap relevan dan di titik hidup mana orang merasa perlu mencarinya.
Ketiga, percakapan publik tentang kelahiran di Singapura selama ini kerap tersedot ke isu biaya hidup, perumahan, atau work-life balance. Semua itu memang nyata, dan juga tercermin dalam survei pemerintah. Namun ketika semua perhatian tertuju pada hambatan ekonomi dan sosial, literasi biologis mudah terdorong ke pinggir, seolah bisa diselesaikan belakangan. Studi NUS ini mengingatkan bahwa penundaan rencana keluarga bukan cuma persoalan uang dan waktu, tetapi juga soal apakah orang memahami batas waktu biologis mereka sendiri.
Makna sosialnya: dari kebijakan kelahiran ke literasi kesehatan
Nilai utama studi ini justru muncul ketika ia dibaca di luar kerangka sempit kebijakan pronatalis. Temuan tersebut tidak membuktikan bahwa rendahnya angka kelahiran Singapura disebabkan oleh kurangnya pengetahuan fertilitas. Ia juga tidak bisa dipakai untuk menyalahkan individu yang menunda punya anak. Yang lebih kuat adalah pesan bahwa literasi kesehatan reproduksi perlu hadir lebih awal, lebih realistis, dan tidak melulu berpusat pada perempuan. Laporan media atas studi ini juga mencatat masih banyak responden yang kurang memahami penurunan fertilitas pada pria, padahal sumber resmi pemerintah menegaskan faktor usia memengaruhi keduanya.
Bagi sektor layanan kesehatan, implikasinya adalah kebutuhan komunikasi yang lebih sederhana dan berbasis bukti: bukan menakut-nakuti, melainkan membantu orang memahami pilihan, risiko, dan waktu. Bagi pembuat kebijakan, ini menandakan bahwa dukungan pada keluarga tidak cukup jika hanya berhenti pada insentif finansial. Dan bagi pembaca di kota-kota besar Asia Tenggara, pesan yang paling mudah ditarik adalah bahwa penundaan transisi ke keluarga makin lazim, tetapi tubuh manusia tidak selalu mengikuti ritme karier, biaya hidup, dan perencanaan urban modern. Kesimpulan terakhir ini merupakan inferensi dari tren yang tampak dalam data dan perdebatan kebijakan Singapura.
Apa yang berubah, dan apa yang belum terbukti
Yang berubah adalah titik tekannya. Studi ini menggeser percakapan dari asumsi bahwa generasi muda sekadar tidak ingin punya anak menuju pertanyaan yang lebih mendasar: jika mereka ingin, apakah mereka memahami kapan dan bagaimana pilihan itu menjadi makin sempit? Ia juga memperlihatkan bahwa rasa percaya diri tentang pengetahuan reproduksi bisa lebih tinggi daripada pengetahuan faktual yang sebenarnya.
Namun banyak hal belum terbukti. Studi ini belum membuktikan bahwa peningkatan literasi otomatis akan menaikkan angka kelahiran. Ia juga belum menunjukkan bahwa responden yang salah menjawab pertanyaan dasar akan mengalami kesulitan reproduksi di kemudian hari. Jika naskah akademik penuh, metodologi rinci, dan proses peer review studi tersebut belum tersedia untuk publik, maka ukuran sampel, rentang usia, dan hasil-hasil yang dikutip tetap harus dibaca sesuai laporan media dan ringkasan institusi yang ada saat ini. Dengan batas itu, kontribusi terkuat temuan NUS bukan pada janji solusi cepat, melainkan pada peringatan yang lebih sederhana: keinginan punya anak bisa tetap tinggi, tetapi waktu biologis dan pengetahuan tentangnya tidak menunggu orang merasa benar-benar siap.
